Advertisement
Bojonegoro – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Bojonegoro pada Selasa sore (23/12/25) berujung petaka yang mengejutkan. Ruang rapat paripurna Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bojonegoro mengalami kerusakan serius setelah bagian atap utamanya ambrol, menimpa peralatan dan mebel di dalam ruangan yang biasa digunakan untuk agenda penting para wakil rakyat.
Keterangan dari petugas keamanan gedung yang menyaksikan peristiwa tersebut, Suroso (42 tahun), menyampaikan bahwa hujan mulai turun dengan deras sekitar pukul 15.30 WIB. Tak lama kemudian, terdengar bunyi berisik dari arah atap ruang rapat paripurna. "Saya sedang mengawasi di lobi, tiba-tiba ada bunyi 'gledek' yang kencang. Saya lari ke arah ruang rapat dan lihat bagian atap tengah sudah roboh, air hujan langsung membanjiri seluruh ruangan," ujar Suroso.
Reruntuhan atap sebesar kurang lebih 15 meter persegi menimpa sejumlah meja rapat dan kursi yang digunakan para anggota DPRD. Beberapa peralatan elektronik seperti proyektor, mikrofon, dan layar LED juga terkena dampak, terendam air atau tertekan oleh puing-puing atap. Tidak ada korban jiwa atau luka-luka dalam peristiwa ini karena ruangan sedang kosong saat kejadian.
Ironisnya, gedung megah tersebut tergolong masih sangat baru. Bangunan yang dibangun dengan desain modern dan fasilitas lengkap itu diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur pada awal 2023, setelah melalui proses pembangunan selama kurang lebih 1,5 tahun. Anggaran yang dikeluarkan untuk pembangunan gedung tersebut mencapai sekitar Rp77 miliar, yang seluruhnya bersumber dari uang negara melalui anggaran belanja daerah (APBD) Kabupaten Bojonegoro.
Peristiwa ini pun langsung menuai sorotan publik dan memunculkan pertanyaan besar terkait kualitas pembangunan serta pengawasan yang dilakukan selama proses konstruksi. Banyak warga Bojonegoro yang menyampaikan kekesalan melalui media sosial, menyebutkan bahwa gedung yang dibangun dengan anggaran fantastis seharusnya tahan terhadap cuaca ekstrim seperti hujan deras.
"Saya kaget banget. Gedung baru banget, harganya segitu banyak, tapi cuma hujan deras aja sudah ambrol atap. Ini jelas masalah kualitas atau pengawasan yang tidak ketat," tulis seorang warga di akun media sosialnya, yang kemudian banyak dibagikan.
Selain itu, beberapa aktivis masyarakat di Bojonegoro juga mengajak agar pihak terkait melakukan penyelidikan mendalam. Ketua Forum Masyarakat Peduli Bojonegoro, Ahmad Fauzi (38 tahun), menyatakan bahwa peristiwa ini tidak boleh hanya dilewatkan begitu saja. "Kita butuh klarifikasi mengenai bagaimana proses pembangunan dilakukan, siapa kontraktor yang menangani, dan apakah ada pengawasan yang memadai dari pihak pemerintah daerah. Anggaran Rp77 miliar itu bukan uang kecil, harusnya digunakan untuk sesuatu yang berkualitas," katanya.
Ketika ditemui di lokasi kejadian, Wakil Ketua DPRD Bojonegoro, Sri Wulandari, mengakui bahwa peristiwa ini sangat menyakitkan. Dia menjelaskan bahwa pihak DPRD akan segera membentuk tim peninjauan untuk menilai kerusakan dan mencari akar masalah. "Kita sangat menyesal dengan kejadian ini. Ruang rapat paripurna adalah jantung dari kegiatan DPRD, jadi kerusakan ini akan mengganggu agenda kita ke depan. Kita akan bekerja cepat untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk penyelidikan terhadap penyebab kerusakan," ujar Sri Wulandari.
Sampai berita ini diterbitkan, pihak Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan Dinas Pekerjaan Umum (PUPR) Bojonegoro belum memberikan keterangan resmi. Media juga telah mencoba menghubungi kontraktor yang menangani pembangunan gedung tersebut, namun panggilan dan pesan belum terbalas. Banyak pihak menantikan penjelasan resmi dan tindakan tegas agar kasus ini tidak terulang dan agar uang negara tidak terbuang sia-sia.
