Advertisement
Bodak, Lombok Tengah – NTB – Di pelosok kampung Bodak, Kecamatan Praya, Lombok Tengah, ada sebuah nama yang tidak perlu diperkenalkan lagi. Nama itu bercahaya seperti pelita di tengah kegelapan, selalu ada ketika warga membutuhkan, selalu berdiri di depan ketika orang lain menjauh. Nama itu adalah H. Sujayadi—seorang lelaki yang membangun jejak tak terhapus dalam hati masyarakat, melalui perjuangan yang tak pernah berhenti di bidang advokasi hukum, olahraga, sosial, dan kemanusiaan.
Namun sedikit yang tahu bahwa perjalanan luar biasa ini tidak dimulai dengan kehormatan atau jabatan yang megah. Semuanya dimulai dari sesuatu yang sederhana namun kuat: keinginan untuk tidak membiarkan ketidakadilan berdiri tanpa perlawanan.
Ketika masih muda, H. Sujayadi sering menyaksikan persoalan-persoalan masyarakat yang dibiarkan terlantar. Sengketa tanah antar tetangga yang berlarut-larut, korban kecelakaan yang tidak mendapatkan keadilan, warga miskin yang tidak tahu harus mengadu ke mana—semua itu menusuk hatinya. Tanpa ada guru atau dukungan khusus, dia mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Mengapa tidak ada yang mau berdiri mereka?”
Dari situlah lahir tekad yang akan membentuk jalur hidupnya selamanya: “Kalau tidak ada yang berani, saya harus berani.”
Dia tidak menunggu izin atau dukungan dari siapapun. Mulai dari yang terkecil, dia mulai membantu keluarga tetangga yang kesulitan. Kadang dia hanya mendengarkan, kadang dia memberikan nasihat, dan kadang dia langsung terjun ke lapangan untuk menegakkan kebenaran. Tanpa menyadari, dia tumbuh menjadi sosok yang mampu berdiri tegak di antara kerumitan persoalan masyarakat—suaranya keras ketika perlu, langkahnya tegas ketika menghadapi rintangan, dan yang paling penting: dia selalu hadir ketika orang lain menjauh.
Perjalanan H. Sujayadi yang sederhana perlahan-lahan mulai menarik perhatian warga Bodak. Mulai dari membantu keluarga korban kecelakaan mendapatkan kompensasi, mengawal penarikan kendaraan yang tidak prosedural agar tidak merugikan pemilik, hingga hadir dalam mediasi sengketa yang hampir berujung kekerasan—dia selalu ada di sana, tanpa pamrih, tanpa meminta imbalan.
Tak lama kemudian, dia mulai melihat potensi di antara anak-anak muda yang sering terjebak dalam kegiatan yang tidak bermanfaat. Tanpa ragu, dia membina mereka untuk membentuk tim sepak bola—yang nantinya berkembang menjadi FC Cakrawala Nusantara Bodak, klub yang sekarang menjadi wadah pemberdayaan generasi muda di Lombok Tengah. “Saya ingin mereka memiliki tujuan, bukan hanya menganggur di pinggir jalan,” katanya ketika ditanya alasan membentuk klub.
Seiring waktu, nama H. Sujayadi semakin terkenal. Kata-kata tersebar di antara warga: “Jika ada masalah, cari H. Sujayadi. Pasti ada jalannya.” Tidak hanya di Bodak, tapi juga di desa-desa sekitar Kecamatan Praya, bahkan hingga Lombok Tengah secara luas. Orang datang ke rumahnya dengan berbagai masalah—mulai dari yang kecil hingga yang kompleks—and dia selalu menyambut mereka dengan senyum dan keinginan untuk membantu.
Yang membuat H. Sujayadi berbeda dari banyak tokoh masyarakat adalah cara dia bekerja. Dia bukan sosok yang mencari sorotan media atau panggung untuk menampilkan dirinya. Seringkali, dia berdiri di tengah lapangan bola bersama anak-anak muda pada sore hari, menyemangati mereka untuk mengejar mimpi. Keesokan harinya, dia bisa duduk bersama pejabat lokal atau provinsi, membahkan suara masyarakat yang tak terdengar, berjuang untuk hak-hak mereka.
Ada kalanya dia harus menghadapi orang-orang yang kuat dan berpengaruh, yang tidak senang dengan keberaniannya menegakkan kebenaran. Tapi itu tidak pernah membuatnya mundur. “Saya tidak takut, karena saya tahu apa yang saya lakukan benar,” ujarnya dengan tegas. Dia sering bekerja hingga larut malam, memikirkan solusi untuk masalah warga, atau menghubungi pihak yang berwenang agar masalah segera terselesaikan.
Dan tiap malam, ketika dia pulang ke rumah, dia tahu bahwa tugasnya belum selesai. Ada selalu orang lain yang membutuhkan bantuan, selalu masalah yang perlu diselesaikan. Tapi itu tidak membuatnya lelah—justru membuatnya semakin bersemangat untuk terus berjuang.
Seiring berjalannya waktu, cerita tentang H. Sujayadi tidak lagi sekadar cerita di kampung. Itu sudah menjadi jejak—jejak seorang lelaki yang tak pernah mundur, tak pernah diam, dan tak pernah berhenti memperjuangkan orang-orang di sekitarnya. Dia tidak hanya menyelesaikan masalah yang ada, tapi juga membangun harapan bagi masa depan masyarakat.
Melalui Badan Advokasi Indonesia (B.A.I) DPD NTB yang dia pimpin, dia membawa layanan hukum gratis ke daerah pedesaan, memastikan bahwa warga yang tidak mampu juga mendapatkan akses keadilan. Melalui FC Cakrawala Nusantara, dia membentuk generasi muda yang disiplin dan memiliki mimpi. Melalui kegiatan sosial dan kemanusiaan, dia membantu mereka yang paling membutuhkan—baik dalam waktu damai maupun ketika bencana melanda.
Di Bodak, di Lombok Tengah, bahkan hingga lingkup NTB, H. Sujayadi telah menjadi sosok yang dihormati dan dicintai. Orang melihat dia bukan hanya sebagai tokoh masyarakat, tapi juga sebagai saudara, ayah, atau teman yang selalu ada ketika dibutuhkan. Dia membuktikan bahwa seorang individu bisa membuat perbedaan besar, asal memiliki tekad yang kuat dan keberanian untuk berdiri di pihak yang benar.
Hari ini, meskipun sudah memiliki banyak jabatan dan kehormatan, H. Sujayadi masih tetap sama seperti dulu. Dia masih sering keluar ke lapangan, bertemu dengan warga, membantu mereka yang membutuhkan. Dia tidak pernah lupa akar-akarnya di kampung Bodak, dan tidak pernah melupakan tekad awalnya yang membuatnya menjadi siapa dia hari ini.
“Semua yang saya lakukan, saya lakukan untuk rakyat. Karena saya tahu, jika tidak ada yang berdiri untuk mereka, saya lah yang akan berdiri,” tutupnya, sambil melihat ke arah lapangan bola di Bodak di mana anak-anak muda sedang latihan—generasi muda yang dia bangun, yang akan melanjutkan jejak perjuangannya ke masa depan.
Di tengah kegelapan ketidakpastian, H. Sujayadi tetap menjadi pelita yang menerangi jalan. Jejaknya tidak hanya terukir di tanah Bodak, tapi juga di hati setiap orang yang pernah dia bantu. Seorang lelaki yang tak pernah mundur—itu adalah cerita H. Sujayadi, yang terus berlanjut hingga hari ini.
