Iklan

Kamis, 21 Januari 2021, Januari 21, 2021 WIB
Last Updated 2021-01-21T11:25:46Z

Bupati Loteng Lantik 16 Kepala Desa Dan Satu PAW

Advertisement


Lombok Tengah-Setelah 16 desa tuntas menggelar Pilkades tanpa ada gugatan bulan lalu dan 1 desa menggelar pemilihan melalui mekanisme Pergantian Antar Waktu (PAW) yakni Desa Durian. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah (Loteng) akhirnya melangsungkan pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan kepada Kades periode 2021-2027 dan Kepala Desa antar waktu Desa Durian periode 2021-2024 hari ini, Kamis (21/1) di Bencingah Adi Guna Praya di pimpin Bupati Loteng H Moh. Suhaili FT.


Adapun 16 Kades terpilih yang dilantik tersebut diantaranya, Rudi Kades Gapura, Sudiman Kades Pengengat dan Moh. Sahnan Kades Metak Kecamatan Pujut. Berikutnya Mustajab Kades Banyu Urip, Selamat Riadi Kades Bonder dan Lalu Fahrul Rauzi Kades Mangkung Kecamatan Praya Barat (Prabar). Selanjutnya Dinah Alwi Kades Beleka dan Panjaitan Kades Bilelando Kecamatan Praya Timur (Pratim), serta Lalu Januarsa Atmaja Kades Beraim dan Mansyur selaku Kades petahana Desa Jurang Jaler Kecamatan Praya Tengah (Prateng).


Selain itu, Suhaidi Kades Darmaji Kecamatan Kopang, Hasan Basri Kades Pendem Kecamatan Janapria, Yuda Praya Cindra Budi Kades Karang Sidemen Kecamatan Batukliang Utara (BKU) dan Mariadi Kades Jelantik Kecamatan Jonggat. Kemudian Darbe Kades Montong Sapah Kecamatan Praya Barat Daya (Prabarda) dan Maat Hasan Kades terpilih Desa Sepakek Kecamatan Pringgarata. Sedangkan satunya lagi yakni Didik Setiadi yang merupakan Kades hasil PAW Desa Durian, Kecamatan Janapria.


Dalam sambutannya, Bupati Loteng H Moh. Suhaili FT berpesan kepada 17 Kades yang dilantik agar amanah, profesional dan cepat tanggap dalam situasi apapun. Sekarang ini katanya, rekan-rekan sudah menjadi Kades seluruh masyarakatnya, bukan Kades satu golongan, keluarga dan pendukungnya saja. Semua fikiran dan tenaga harus dicurahkan untuk membangun desa, tanpa pilih kasih dan pandang bulu. Artinya, jangan sampai karena tidak memilihnya, lalu ada perlakuan berbeda apalagi membencinya. Tidak lagi balas dendam dan tidak ada balas jasa. Jika desa ingin maju, rangkullah semua pihak yang dulu menjadi pesaingnya karena mereka semua punya komitmen yang sama untuk ikut membangun desa.


“Mengalahlah saudara-saudara untuk mau dekati mereka, mengabdi dan berkhidmadlah kepada mereka. Jangan menunggu mereka datang ke anda baru mau akur, ini harapan saya jika anda benar-benar berkomitmen untuk memimpin desa,” pesannya.


Dikatakan Abah Uhel, perbedaan  pilihan kemarin yang sempat  menimbulkan gerakan dan gesekan di tengah masyarakat, mulai hari ini tolonglah ditinggalkan, sekarang marilah bersatu. Untuk para calon yang kalah katanya, ini mungkin kemenangan yang tertunda. Ia pun mempersilakan agar ia (Cakades gagal, Red) menuangkan pemikirannya bersama dengan Kades terpilih untuk menjadikan desanya yang lebih baik. Proses Pilkades kata dia, sudah berlangsung dengan aman, kondusif dan damai. Ia pun berharap ke depan situasi di desa-desa di Loteng tetap demikian guna mempercepat menyongsong perubahan guna menjadikan desa yang maju dan mandiri.


“Untuk mempercepat pembangunan di desa, tempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan desa. Galakkan tradisi, budaya dan kebersamaan di desa. Beban dan cobaan kita di Loteng akan semakin besar sekarang dengan begitu banyak potensi yang ada ini. Jangan sampai karena kita tidak siap, potensi ini tidak bisa berjalan sesuai keinginan pemerintah pusat,” tegasnya.


Sebagai pemimpin di desa, Kades lanjutanya, harus mampu menggali potensi dan Sumber Daya Alamnya (SDM) secara optimal. Kades harus selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya sehingga mampu menelurkan program yang tepat, terutama program yang berkaitan dengan penguatan perekonomian msyarakat.


Selain itu, bupati Loteng dua periode ini juga berpesan agar Kades tidak mudah puas diri atas semua yang dimiliki maupun atas yang sudah diraih. Apalagi sampai terbesit dihatinya untuk sombong. Jangan karena merasa dipercaya, malah membuatnya gengsi apalagi untuk mau menuntut ilmu dan meningkatkan kapasitasnya. Demikian juga, jangan sampai karena sekarang sudah menjadi pemimpin di sebuah desa lalu membuat pribadinya seperti “Raja-Raja Kecil”. Tanpa koordinasi, sinergi dan tanpa komuniksi yang baik dengan unsur pimpinan yang ada seperti BPD, camat, bupati, Kades tidak akan bisa melaksanakan fungsinya sebagai Kades dan orang tua serta pengabdiannya di masyarakat.


“Mohon maaf, ini saya sampaikan karena di Lombok Tengah ini ada Kepala Desa yang menganggap tidak ada camat. Main locat sana loncar sini, tanpa koordinasi dengan pihak kecamatan dalam menjalankan pemerintahan di desa. Bahkan kacaunya dia menggap dirinya punya kuasa juga seperti bupati karena dasar sama-sama dipilih oleh rakyat. Sekali lagi, jangan seperti Raja-Raja kecil,” sentilnya.


Diakuinya, sekarang ini ada Kades yang ogah-ogahan dan membuat banyak program pemerintah tidak sampai ke desa. Padahal masyarakat di desa ini juga tanggung jawab pemerintah diatas juga. Pemkab menurunkan dan menelurkan program bukan untuk memerintahkan rekan-rekan Kades  tapi ini merupakan kewajiban bersama dalam melayani masyarakat. Sehingga dirinya meminta agar Kades paham tugas pokok dan fungsinya (tupoksinya).


“Tapi mudahan, dengan wajah 16 Kades yang masih muda-muda ini, kita tidak temukan lagi nanti Kades yang begitu,” ujar Ketua DPD Partai Golkar NTB ini.


Uhel juga menambahkan, rekan-rekan Kades jangan pernah gengsi dan jangan pernah malu untuk menimba ilmu ke desa lainnya jika desa lain itu lebih maju dan berkembang dari pada desanya. Bila perlu, jika ada program study banding hendaknya tujuannya ke desa-desa yang dekat namun sangat patut dipelajari potensinya secara umum. Baik potensi SDA maupun SDM masyarakat hingga pemerintah desanya.


“Mohon pak Kadis PMD, perkuat kapasitas rekan-rekan Kades ini nanti. Bila perlu latih seperti ala militer, biar siap dan tanggap mengayomi masyarakatnya,” pintanya.


“Kalau ada program study banding juga, bersama dengan para camat, tolong benar-benar gunakan sebaik-baiknya. Jangan maunya ke Jakarta saja, padahal di Jakarta tidak ada desa,” sambungnya.


Lebih jauh disampaikan, kalaupun tujuannya ke Bandung, pasti mampir di Jakarta dulu. Bahkan Uhel melihat jika ketika study banding itu ada Kades yang niatnya mau bersedekah saja. Begitu sampai disana (jakarta, Red), tidak pernah meninjau apa yang mau dipelajari. Akan tetapi memikirkan jika pada malamnya mau kemana dan mau apa.


“Miris, ada Kades yang dulunya tidak bisa bernyanyi dan karaoke, tetapi setelah jadi Kades lebih pinter dari artis,” sentil mantan Katua DPRD Provinsi NTB ini.

IKLAN