Advertisement
![]() |
| Penulis:Ria Alfiani Kampus:UNU NTB Prodi:Ekonomi Islam Semester 5 |
Menenun dalam bahasa sasak disebut sesek. Sesek dilakukan dengan cara menjalin benang satu demi satu. Benang yang sudah disusun satu persatu akan diproses dengan cara dipukul ataupun ditarik dengan alat tradisional seperti halnya dibuat dari sebuah kayu. Di desa sukarara dan sade merupakan perkampungan yang menjadi ikon aktivitas ini. disukarara mayoritas penduduknya merupakan penenun aktif. Bahkan ada juga desa-desa yang lain yang masih mempertahankan peninggalan nenek moyang tersebut.
Nenun ini dapat di kategorikan sebagai pekerjaan masyarakat termasuk ibu-ibu untuk selalu mempertahankan kearifan lokal dan menjadikan nenun(sensek) ini sebagai salah satu awalan dari usaha untuk melestarikan tradisi agar apa yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita pada zaman dulu tidak pudar dengan seiring berjalannya waktu di zaman modernisasi seperti sekarang ini. Untuk memulai menenun ini harus ada benang dan alat lainnya yang terbuat dari kayu yang berfungsi untuk membuat sebuah kain tenun. Ada begitu banyak jenis kain yang dapat dibuat dalam menenun(sensek) di suku sasak diantaranya adalah songket, selulut, kembang komak, ragi genep, tapokemalo, sabuk anteng dan banyak juga yang lainnya . motif inilah yang membedakan kain tenun sasak dengan kain tenun dari daerah lain, seiring dengan modernisasi, para penenun membuat inovasi kreatif misalnya dengan membuat kain tenun dengan motif nama sesuai dengan pesanan.
Dalam proses menenun ini dibutuhkan waktu yang lama sekitar 1 bulanan bahkan kalau dikerjakan secara tekun bisa menghabiskan waktu hingga beberapa minggu,tergantung dengan motif yang dipesan, kain tenun atau songket dan sabuk anteng memiliki perbedaan motif dan ukuran, kain tenun punya ukuran yang lebih besar karena biasanya digunakan untuk baju ataupun sarung, sedangkan sabuk anteng umumnya digunakan untuk ikat pinggang atau bisa dijadikan kemben untuk perempuan. Sabuk anteng prosesnya lebih cepat karna jenis kainnya kecil dan tidak terlalu rumit dalam proses pembuatannya, setelah kain tenun jadi, perempuan sade maupun sukarara menjualnya kepada para wisatawan local maupun mancanegara yang bekunjung ke kampung adat sade maupun sukarara dengan harga yang variatif. Rentang harga yang ditawarkan adalah puluhan ribu hingga jutaan rupiah, dengan adanya berbagai macam songket yang ada di Lombok ini, banyak orang luar yang sangat menyukai hasil tenun dari masyarakat yang ada di Lombok, sehingga banyak juga turis ataupun orang luar yang membeli kain tenun dan memberikan aspirasi bagi penenun tersebut. Banyak juga hotel-hotel maupun tempat-tempat yang mewah yang menggunakan kain tenun ini sebagai pajangan atau hiasan yang berarti menandakan bahwa khas Lombok masih mempertahankan peninggalan nenek moyang itu sendiri. Kain tenun atau songket dan ikat memiliki perbedaan motif dan ukuran dan juga dibuat dari alat tradisional, jangan heran jika hasil tenunan pulau Lombok di kasih dengan harga yang cukup tinggi, dari ratusan ribu bahkan jutaan rupiah.
Adapun alat dan bahan untuk pembuatan kain tenun sasak adalah sebagai berikut:
Batang berfungsi sebagai pondasi tempat untuk menaruh tiang atau jajak
Jajak berfungsi sebagai tiang tempat menaruh ramon
Ramon/tutuk berfungsi untuk menggulung benang yang sudah siap tenun
Wede berfungsi sebagai pemisah benang bawah dan benang atas pada bagian ramon/tutuk
Penggolong berfungsi sebagai menyulam benang
Penggun berfungsi sebagai menyulam benang
Suri berfungsi sebagai sisir untuk benang yang sudah di tenun dan yang belum ditenun
Berire berfungsi sebagai pemadat atau pengepres benang sampai padat sehingga menjadi kain
Tekah berfungsi meratakan atau merapikan benang yang sudah menjadi kain
Apit berfungsi menggulung benang yang sudah menjadi kain
Lekot sebagai penahan apit supaya benang yang sudah menjadi kain tidak susut
Terudak berfungsi sebagai tempat menaruh penering
Pendiring berfungsi sebagai penggulung benang
Alit berfungsi sebagai pengikat antara apit dan lekot
Salah satu faktor yang menyebabkan menenun bisa bertahan sampai sekarang adalah karena kebutuhan masyarakat dalam melaksanakan ritual – ritual dan berbagai macam acara adat lainnya yang membutuhkan kain tenun sebagai salah satu syarat terlaksananya acara adat tersebut, contohnya seperti; acara nyongkolan, acara sorong serah aji krame, dan lain – lain. Namun tidak bisa dipungkiri menenun sampai sekarang hanya bisa ditemukan di desa – desa tertentu, dibalik pembuatanya yang sangat rumit, memakan waktu yang lama dan menguras tenaga menjadi faktor yang sangat berpengaruh pada perkembangannya. Mengingat pada zaman globalisasi ini hanya sebagian kecil masyarakat yang meminati untuk menenun kain (nensek). Namun menenun bisa menjadi salah satu bisnis yang menarik jika dipasarkan dengan benar.
Bagi sebagian masyarakat menenun masih menjadi tradisi, bahwasanya perempuan bisa dikatakan dewasa jika sudah bisa menenun (nensek).
