Iklan

Minggu, 09 November 2025, November 09, 2025 WIB
Last Updated 2025-11-09T09:50:03Z

Pegat Kepeng: Saat Cinta dan Adat Bertemu di Tanah Sasak

Advertisement

 


 

Oleh: Ainuddin Fahri (KUA)

Lombok Tengah- NTB Dalam khazanah adat Sasak, perayaan pernikahan bukan sekadar pesta dengan tawa, musik, dan arak-arakan. Lebih dari itu, terdapat prosesi sakral yang kaya makna dan doa, yaitu Pegat Kepeng. Tradisi leluhur suku Sasak ini tetap dijaga dengan penuh khidmat hingga kini.

 

Sekilas, Pegat Kepeng tampak sederhana. Para tokoh adat berdiri di halaman rumah, sementara keluarga pengantin pria menebarkan uang logam ke arah tamu undangan. Suasana riuh oleh gelak tawa anak-anak yang memungut "kepeng" di tanah.

 

Namun, perlu dicatat bahwa tata cara Pegat Kepeng dapat berbeda di setiap daerah. Di wilayah Mantang, misalnya, kepeng tidak ditebar, melainkan dikumpulkan dalam wadah. Meski demikian, esensi filosofisnya tetap sama. Seiring perkembangan zaman, simbolisasi pun beradaptasi. Kepeng atau uang pegat yang dikumpulkan tanpa ditabur dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kampung.

 

Dalam bahasa Sasak, "pegat" berarti "memutus," sedangkan "kepeng" berarti "uang logam." Namun, "memutus" di sini bukanlah tentang perpisahan cinta, melainkan memutus urusan duniawi antara keluarga mempelai dengan masa lajang. Prosesi ini menandai babak baru bagi kedua mempelai: kehidupan rumah tangga yang sah secara adat, agama, dan sosial.

 

Bagi masyarakat Sasak, pernikahan adalah urusan dua keluarga dan dua kampung. Oleh karena itu, Pegat Kepeng menjadi simbol keikhlasan dan penghormatan. Uang yang dilemparkan atau dikumpulkan mencerminkan niat tulus orang tua melepas anaknya, sekaligus berbagi rezeki dengan sesama. Dalam pandangan adat, keberkahan cinta harus disertai keberkahan sosial. Sebelum Pegat Kepeng, biasanya didahului dengan tahlilan untuk memohon keberkahan pernikahan dan prosesi.

 

Uang atau kepeng yang ditabur atau disatukan—yang di dalamnya ada hak warga—melambangkan izin pihak mempelai pria memasuki kampung dalam tradisi nyongkolan (arak-arakan pengantin) setelah Pegat Kepeng.

 

Menurut catatan budaya UIN Mataram, upacara Pegat Kepeng mengandung tiga makna utama:

 

1. Aji Krame: Pengingat akan tanggung jawab dan tata krama dalam berumah tangga.

2. Krama Gubuk: Simbol izin dan penghormatan kepada lingkungan tempat mempelai akan tinggal.

3. Babas Kute: Penanda restu dari masyarakat agar perjalanan rumah tangga dimulai dengan harmoni.

 

Saat ini, sebagian masyarakat telah memodifikasi prosesi ini. Uang logam kadang diganti dengan uang kertas atau seserahan lain, tetapi semangatnya tetap sama: berbagi, merelakan, dan menyatukan. Tradisi yang lahir dari kearifan lokal ini mengingatkan bahwa dalam pernikahan, kebersamaan dan restu adat lebih utama daripada kemewahan.

 

Di tengah modernisasi, Pegat Kepeng adalah napas yang menyejukkan. Ia menegaskan bahwa cinta sejati, dalam pandangan orang Sasak, berakar pada budaya, keluarga, dan rasa hormat pada leluhur.

 

Dari prosesi adat Pegat Kepeng ini, kita dididik tentang filosofi bahwa rezeki bisa dicari, cinta bisa tumbuh, tetapi adat adalah jantung kehidupan yang tak boleh putus. Allahu'alam.

 


IKLAN