Advertisement
Lombok Tengah-Sejumlah warga dari Dusun Ebunut dan Ujung Lauk, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang akan menjalankan aktivitasnya pergi melaut ke Pantai Seger dan sekitarnya terheti setelah dilarang oleh petugas penjaga sirkuit motoGP Mandalika untuk tidak masuk kedalam lintasan sirkuit motoGP Mandalika di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) The Mandalika di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. ” Kejadiannya tadi siang (Jum’at, 20/8), ada warga dari Dusun Ebunut dan Dusun Ujung Lauk mau pergi menangkap ikan ke Pantai Seger, tapi karena belum ada akses jalan menuju ke Pantai Seger termasuk akses jalan menuju rumah, mereka masuk ke dalam lintasan sirkuit untuk menuju pantai Seger, namun ada petugas dari ITDC dan Anggota TNI melarang mereka dan mereka diusir diminta keluar dari dalam lintasan sirkuit dan mencari jalan lain menuju pantai Seger,” cerita Ketua Forum Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kecamatan Pujut, Lombok Tengah Alus Darmiah.
Sampai dengan saat ini kata Alus, puluhan kepala keluarga (KK) di Dusun Ebunut dan Dusun Ujung Lauk masih terisolir dan terjebak didalam lintasan sikuit MotoGP Mandalika. Wargapun saat ini masih kebingungan tidak tahu jalan keluar masuk ke dalam kampung halaman mereka. ” Disatu sisi kami bangga mempunyai Sirkuit MotoGP, tapi disisi lain kami kecewa karena masyarakat terisolir sulit sekali bisa beraktivitas dengan normal, anak-anak yang mau ke sekolah, masyarakat yang mau ke pasar,mencari rumput dan sebagian nelayan harus memutar ke Tunel 1 (terowongan yang ada dibawah lintasan sirkuit motoGP) yang berada di sebelah Utara, sedangkan laut Seger berada di selatan. Kalau melalui Tunel 2, tidak bisa dilalui karena airnya tidak bisa kering. Kami seperti dipenjara, tidak ada jalan keluar – masuk. Mau keluar susah, harus berhadapan dengan petugas, kalaupun bisa keluar dengan cara main kucing – kucingan, masuknya kami tambah susah dan sulit,” sebutnya
Alus menyayangkan sikap PT ITDC selaku pengembang KEK The Mandalika dan sikap dari Gubernur NTB termasuk sikap dari Bupati Lombok Tengah yang acuh, cuek dan tidak mau memperdulikan nasib puluhan KK yang terisolir dan terjebak di tengah – tengah sirkuit MotoGP Mandalika. “Kami sangat menyayangkan sikap acuh tak acuh, cuek dan sikap tidak perduli kepala daerah dalam hal ini Gubernur NTB dan Bupati Lombok Tengah terhadap kondisi dan nasib warga yang masih terisolir. Padahal ini sudah berkali-kali disuarakan oleh warga bersama kawan-kawan penggiat LSM, namun sampai saat ini respon gubernur dan bupati masih nihil. Begitu juga dengan pihak Proyek PT PP acuh tak acuh, bahkan masyarakat sering bertengkar ketika mau melintasi Sirkuit. Ini aneh tapi nyata, kami terisolir di kampung kami sendiri. Dan ini menjadi kado kami di HUT ke – 76 Kemerdekaan RI,” ungkapnya
Tidak hannya terisolir, lanjut Alus, kesehatan warga juga terganggu akibat polusi udara dan debu akibat dari aktivitas kendaraan besar yang beroperasi ditengah – tengah proyek sirkuit MotoGP Mandalika. “Bahkan PT PP ini sangat abai terhadap dampak Polusi udara yang diakibatkan hilir lalu-lalang kendaraan pengangkut material sirkuit bahkan Pabrik Pembuatan aspal sangat mengganggu kami dan tidak ada kontribusi bagi masyarakat yang terdampak baik lokasi Ujung Lauk,Unung Daye, Ebunut Petewong yang bersentuhan dan berdekatan langsung dengan lokasi pembangunan Sirkuit MotoGP,”
Menurut Alus, warga yang terisolir di Dusun Ebunut dan Ujung Lauk bertahan di dalam kampung halaman mereka untuk mempertahankan tanah dan bangunan mereka yang sampai dengan saat ini belum dibebasakan atau dibayar oleh PT ITDC. “Di Dusun Ujung Lauk sekitar 40an KK dan sekitar 70-an KK di Ebunut. Warga masih masih tinggal disana (ujung lauk dan ebunut) untuk mempertahankan tanahnya, karena tanah mereka belum pernah di jual kepihak manapun, namun PT ITDC sudah memasukkan ke HPL, ini aneh tapi nyata,” ujarnya.